Senin, 12 April 2010

AnalisiS Strategi Bersaing

GIANT VS CARREFOUR

Sumber : http://suharjono.wordpress.com

Hypermarket, kira-kira seperti itulah brand yang dikedepankan oleh dua merk ini dan beberapa merk lain. Sebuah layanan one stop market dimana semua kebutuhan dijual di sana, dari kebutuhan sehari-hari sampai kendaraan bermotor dijual.

Kenapa gue tertarik membahas dua brand ini? Dari segi umur CARREFOUR lebih unggul karena sudah lebih dulu bermain di segmen ini dibandingkan dengan GIANT – anak perusahaan dari HERO supermarket – yang baru bermain di segmen ini sekitar dua tahun yang lalu. Namun ada yang unik di sini, GIANT berusaha memenangkan brand dengan positioning “produk dalam negeri” dan produk “termurah”, yang jelas tidak dimiliki oleh CARREFOUR atau hypermarket lain. Jelas ini agak menguntungkan GIANT, tapi seberapa berpengaruhkah positioning ini terhadap segmentasi pasar? Berikut akan saya bahas.

Gue kebetulan juga seorang customer dari kedua merk tersebut, biasanya gue carrefour karena jaraknya lebih dekat. Tapi beberapa karena banjir jakarta kemaren, carrefour deket rumah gue – MT Haryono – kerendam, jadi nggak bisa melayani sehingga gue terpaksa ke hypermarket terdekat dan pilihan kedua adalah Giant. Tampak sekali perbedaan kualitas pelayanan yang mencolok antara Giant dan Carrefour. Saya menilai pelayanan Giant dan Carrefour dari beberapa segi

1. Kebersihan
Sewaktu datang ke Giant, saya yang biasa berbelanja di carrefour merasa aneh karena tempat belanja yang terkesan kotor dan pencahayaan yang redup semakin menambah kesan kurang bersih. Ditambah lagi waktu gue ke toiletnya. Hmmm.. kotor banget, pispotnya mampet, di wc masih ada sisa-sisa orang sebelum gue. Akh pokoknya nggak banget deh. Sangat berbeda dari tempat saya belanja biasanya, yang sudah cukup memberikan nilai kebersihan.

2. Interaktivitas pelanggan
Di tempat biasa saya belanja selalu ada orang yang menginformasikan penawaran produk melalui interkom jadi pelanggan lebih merasa diperhatikan. Sedangkan di Giant hal ini belum ada. satu hal yang ada yaitu musik, itupun lagunya bukan lagu baru dan nadanya mellow sehingga cukup membuat orang enggan belanja -ngantuk-.

3. Kesan Lux
Kesan lux sama sekali nggak keliatan di Giant, kesan yang saya dapatkan justru masih ada kesan tradisional dan kurang modern.

Melihat kasus diatas terlihat sekali kalau keunggulan harga dan branding saja belumlah cukup. Contohnya adalah saya. Saya sebagai orang Indonesia sempat bangga dengan produk Giant yang saya anggap mewakili Indonesia di negerinya sendiri. Tapi setelah merasakan layanan, jelas saya kecewa dan merasa Giant nggak pantes mewakili Indonesia, dan bagi sebagian besar orang seperti saya lebih baik mengeluarkan sedikit uang lebih tetapi mendapatkan kenyamanan dibandingkan hanya sedikit murah tetapi kenyamanan sama sekali terpangkas.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar